Sejarah Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, menyimpan lini masa yang panjang. Wilayah ini bertransformasi dari sebuah basis komunitas pembangkang kerajaan menjadi pusat administrasi kolonial yang penting, hingga akhirnya menjadi basis utama pertahanan kemerdekaan RI di Kalimantan.
Berikut adalah catatan sejarah penting perkembangan Kota Kandangan dari masa ke masa:
1. Asal-Usul Nama dan Era Kerajaan Kuno
• Komunitas Penolak Negara Dipa: Berdasarkan mitologi sejarah Banjar, saat Patih Lambung Mangkurat mendirikan Kerajaan Negara Dipa dan menobatkan Putri Junjung Buih (Galuh Cipta Sari), terjadi pergolakan politik. Penduduk di kawasan Batang Hamandit (sekarang daerah Aliran Sungai Amandit) menolak mengakui kekuasaan istana tersebut.
• Benteng "Kandang": Untuk melindungi diri dari serangan pasukan Negara Dipa, komunitas pembangkang tersebut membangun benteng pertahanan kokoh yang menyerupai pagar kurungan atau kandang. Dari sinilah istilah Urang Kandangan (orang-orang yang tinggal di dalam kandang) muncul.
• Versi Penggembalaan Kerbau: Cerita rakyat alternatif menyebutkan daerah ini dahulu merupakan pusat peternakan kerbau (hadangan). Karena banyaknya kandang kerbau di sepanjang sungai, pelafalan kata hadangan bergeser secara fonetis seiring waktu menjadi Kandangan.
2. Masa Kolonial Hindia Belanda & Jepang
• Pusat Afdeeling Van Hoeloe Soengai: Ketika Belanda menancapkan kekuasaannya di Banua Anam, Kandangan dipilih sebagai ibu kota administrasi untuk seluruh wilayah Hulu Sungai (Afdeling Van Hoeloe Soengai).
• Pembangunan Kota: Pemerintah kolonial membangun infrastruktur penting yang sisa arsitekturnya masih membekas hingga kini, seperti Pasar Los Batu Kandangan yang dibangun sekitar tahun 1923-1930.
• Era Penjajahan Jepang: Saat Jepang masuk, pembagian wilayah ini tetap dipertahankan, namun statusnya diubah menjadi wilayah administratif bernama Hoeloe Soengai Ken Riken.
3. Basis Perjuangan Kemerdekaan (ALRI Divisi IV)
• Benteng Pertahanan Pejuang: Pasca-proklamasi 1945, ketika Belanda mencoba berkuasa kembali melalui NICA, kawasan Hulu Sungai—terutama pegunungan Loksado dan wilayah urban Kandangan—menjadi pusat komando pergerakan gerilya.
• Proklamasi Kalimantan 1949: Perjuangan ini mencapai puncaknya di bawah pimpinan Brigjen H. Hasan Basry melalui ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Kandangan menjadi pilar penting yang memaksa Belanda mengakui eksistensi perjuangan kemerdekaan rakyat Kalimantan melalui Proklamasi 17 Mei 1949.
4. Era Pasca-Kemerdekaan & Pembentukan Kabupaten
• Penetapan Otonomi: Melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor C/17/15/3 tertanggal 29 Juni 1950, eks-Afdeling Hulu Sungai secara resmi dilebur menjadi Kabupaten Hulu Sungai dengan Kandangan tetap ditunjuk sebagai ibu kotanya.
• Hari Jadi HSS: Pada 2 Desember 1950, Gubernur Kalimantan secara resmi melantik Bupati pertama. Tanggal bersejarah ini kemudian ditetapkan secara yuridis sebagai Hari Jadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Kandangan — ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan — sejak lama melekat dengan julukan daerah atau kota tempat lahirnya para petarung, pejuang, serta jawara.
Asal-Usul Julukan & Sejarah
• Pusat Perjuangan: Secara historis, Kandangan menjadi basis pertahanan dan melahirkan banyak tokoh pejuang dalam berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan.
• Tradisi Jawara & Hulu Balang: Masyarakat zaman dahulu mengenal wilayah ini dengan tradisi para jawara dan hulu balang yang kerap membawa senjata tajam khas seperti Parang Bungkul untuk menjaga keamanan serta mengawal pemimpin/tuannya. Parang Bungkul ini bahkan diabadikan sebagai bagian dari nilai budaya dan lambang daerah.
• Asal-Usul Nama: Terdapat beberapa cerita rakyat terkait nama Kandangan, mulai dari istilah kandang/kurungan bagi orang-orang yang mengasingkan diri hingga plesetan kata hadangan (kerbau) karena banyaknya tempat penggembalaan kerbau di wilayah Batang Amandit pada masa lampau.
Karakteristik Kota Saat Ini
• Pusat Pemerintahan & Ekonomi: Kini, Kandangan berkembang menjadi simpul perdagangan penting yang menghubungkan Banjarmasin dengan wilayah Benua Anam hingga Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
• Kuliner Khas: Kota ini sangat terkenal dengan kekayaan kuliner lokalnya, seperti Ketupat Kandangan, Dodol Kandangan, hingga Lamang Kandangan yang bisa dicoba di sekitar pasar atau sepanjang jalan utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar