Gunung Kantawan Loksado

Minggu, 01 April 2012

CERITA RAKYAT KANDANGAN, HULU SUNGAI SELATAN, KALIMANTAN SELATAN : NAGA DI LOK SINAGA SUNGAI AMANDIT

Riwayat ini sudah lama sekali terjadi, menurut cerita rakyat Kandangan bahwa pada zaman dahulu kala di tepian sungai Amandit, tepatnya di desa Loklua atau Lok si naga hiduplah dua orang petani dengan seorang anaknya. Pekerjaan mereka sehari-hari selain bertani juga menangkap ikan di sungai Amandit.
Pada suatu malam kedua suami isteri petani itu mencari ikan di sungai Amandit. Sudah lama keduanya mencari ikan menggunakan tangguk (alat penangkap ikan suku banjar), namun tidak seekor ikan pun yang mereka dapatkan. Tiba-tiba masuklah sebutir telor besar ke dalam tangguk isteri petani tersebut.
Karena telor itu agak ganjil dari biasanya maka telor itu cepat-cepat dilemparkannya kembali ke aliran sungai Amandit. Anehnya setiap kali isteri petani itu mencari ikan, maka telor itu kembali masuk ke dalam tangguk mereka.
Hari semakin malam, dan seekor ikan pun masih belum mereka dapatkan. Embun malam mulai turun, angin dingin berhembus perlahan membuat kedua suami isteri itu menggigil kedinginan. Dengan perasaan kecewa, maka pulanglah mereka dengan tidak memperoleh seekor ikan pun untuk di makan selain sebutir telor besar yang tadi mereka dapatkan.
Sesampainya dirumah telor itu langsung direbus dan dimakan bersama oleh suami isteri tersebut, sementara anaknya tertidur pulas. Menjelang shubuh anaknya terbangun dan menjerit karena rumahnya penuh dengan dua ekor naga berwarna putih menyilaukan.
Naga putih tersebut berkata agar anaknya tetap tenang, sebab dua ekor naga putih yang di hadapannya tersebut adalah penjelmaan dari ayah ibunya karena memakan telor besar yang tadi mereka dapatkan ketika mencari ikan di sungai Amandit.
Naga putih itu memerintahkan agar anaknya segera mencarikan empat buah pisau untuk dibuat gigi taring, serta mencarikan batang pohon untuk mereka turun dari dalam rumah ke aliran air sungai Amandit. Naga putih bermakud membunuh naga merah, yaitu naga yang memang sudah lama mendiami dasar sungai Amandit dan sering mengganggu penduduk desa Loklua. Juga karena hanya liang naga merah lah yang bisa mereka jadikan tempat tinggal di dalam air.
Naga putih memberikan tanda kepada anaknya apabila mereka menang atau kalah yaitu ;
Apabila darah merah memancar di air menandakan naga merah menemui ajalnya dan naga putih yang menang, sebaliknya apabila darah putih yang memancar di air menandakan naga putih lah yang menemui kematian dan naga merah masih hidup.
Perkelahian yang seru dan menggegerkan penduduk desa Loklua, dengan diiringi hujan ribut, petir dan halilintar. Mengakibatkan sungai Amandit banjir besar, banyak rumah penduduk desa Loklua yang hancur.
Pertempuran terjadi dengan hebat dan dahsyatnya hingga berakhir dengan memancarnya darah merah di permukaan air sungai Amandit, yang berarti naga merah menemui ajalnya dan naga putih lah yang menang. Sejak itu penduduk desa Loklua menjadi aman dari gangguan naga merah.
Menurut cerita selanjutnya naga putih itu kemudian menetap di sungai Amandit Lok lua Kandangan, dimana dulunya adalah tempat tinggal naga merah.

2 komentar:

  1. Kaingatan bahari waktu dikisahkan arwah kai kisah ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bujur, Legenda turun temurun kisah naga ningkurungan umbu ura loksinaga loklua hamandit kandangan

      Hapus